Thursday, May 30, 2013

My First 'Mask' Toy - Venom Helicopter


I missed this toy when I moved out of my child city.....what's a pity!!! :D

Monday, May 27, 2013

Sintel by Colin Levy - A Nice Short 3D Animation



Bagi Anda penggemar animasi, Sintel, adalah sebuah filam animasi pendek berdurasi sekitar 14 menutan....namun yang membuat saya tertarik adalah film ini dibuat oleh sebuah software open source, Blender dan kualitas dari animasi 3D nya terbilang oke.....saya sendiri penggemar amatiran untuk berbagai film 3D animasi...

Selain itu cerita dan nilai yang ditampilkan juga terbilang bagus dan mendalam untuk dimaknai.....silakan Anda lihat sendiri walau film ini bergenre fantasy namun cukup elegan untuk dilihat ......

Embeded from : http://www.shortoftheweek.com/2010/10/03/sintel/

Thursday, May 23, 2013

Great Angle Photo by Matt Nuzzaco


Any idea how the camera wotk to get this angle shot? Of course no use a photo editing software....

This photo is a property of pictorymag (http://www.pictorymag.com/showcases/phoot-campers-2011/#pictory-3617) Photographer :Matt Nuzzaco

A Lesson From Coins Jar


Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Wednesday, May 22, 2013

The Golden Rule? Thoughts on gold as an investment

 
Paraphrasing Winston Churchill, gold is a "riddle, wrapped up in a mystery inside an enigma", at least as far as I am concerned. I don't understand what moves the gold price and I have never held gold in my portfolio. That does not mean, however, that I am not fascinated by the price of gold and immune from its movements. That was brought home last week, when the price of gold dropped by 9% on April 15, 2013, the biggest one day drop in thirty years. Not only did the prices of other precious metals (silver dropped 12%) and industrial metals drop, but stock prices took a tumble as well. While the attention has focused on the price drop in recent days, gold has had a good run over the last decade.

The nominal and inflation-adjusted prices of gold have soared in the last decade, and at the end of 2012, the nominal price was at an all time high of 1664 and the inflation-adjusted price was close to its previous high set at the end of the 1970s. The big question that has been debated in recent days is whether gold will continue to drop in the coming days. More generally, is gold is under or over priced? With my limited understanding of gold, I decided to give it a shot.

The Power Of Perception



Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan dua hal kepada 2 anak laki-lakinya :
  • Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu.
  • Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka. 

Jawab anak yang bungsu : “Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih”. “Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak”.

Monday, May 20, 2013

Highly Effective Business Performance Management Manifesto In An Uncertainty Age


Di bulan Oktober 2008, Peter Oppenheim - CFO Apple berkomentar "Visibilitas semakin rendah dan forecasting (berbeda dengan meramal dalam persepsi sehari-hari) merupakan tantangan besar", yang sebenarnya mungkin merupakan bahasa halus dari,"Kita sama sekali tidak memiliki ide memadai tentang apa yang akan terjadi esok hari."

Di tahun 2010, CFO UPS - Kurt Kuehn melaporkan," Normalnya kita sangat berobesesi untuk membuat perencanaan yang komprehensif dan akurat, namun dengan kejadian resesi ekonomi 2008 kami memandang perencanaan adalah sebuah upaya membuang-buang waktu."

Apple dan UPS adalah sebagian dari raksaasa manajemen yang tersistem dengan baik yang kita kenal. Mereka memiliki dan telah mengimplementasikan integrated framework yang sangat komprehensif dalam membuat perencanaan maupun forecasting. Namun mereka juga memiliki pengalaman berharga bagaimana mereka berjuang bersama raksasa-raksasa dunia korporasi lainnya dalam menghadapi hantaman badai krisis 2008. Bahkan banyak dari nama besar korporasi berjatuhan seperti, Lehman Brothers, Bear & Stearns, General Motors dan Chryslers adalah sebagian dari mereka yang berjatuhan. 

Mereka yang berguguran sudah tidak asing dengan yang namanya Business Performance Management (BPM framework) yang mumpuni. Bertahun-tahun mereka terus menerus mengembangkan integrated system yang tak kecil memakan biaya dan upaya. Namun dengan terimbasnya mereka dengan krisis 2008 menunjukkan hasil dari upaya mereka selama ini adalah nihil besar.

Harapan besar dengan pengembangan integrated framework adalah adanya agilitas, memberi perbedaan besar dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, dan fleksibilitas dalam meningkatkan kinerja bisnis mereka menjadi pupus.

Sunday, May 19, 2013

Sekilas tentang 'Stock Picking'




Memilih saham bagi saya adalah pekerjaan yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Dengan bantuan screener dari berbagai site finansial saya akan mendapatkan beberapa saham yang menarik. Walaupun saya telah memiliki metode filtering yang selama ini saya pakai, saya tidak menutup diri untuk mencoba menemukan metode-metode baru.


Filter standar saya biasanya adalah mencari saham-saham yang kuat dan secara historis tumbuh dengan konsisten. Biasanya dengan kriteria tersebut dan menambahkan sedikit polesan di sana sini saya akan mendapatkan saham yang memberikan kontribusi cukup besar bagi pertumbuhan portfolio saya.


Walaupun begitu, terkadang saya mencoba mencari saham-saham dengan kriteria tertentu yang berbeda dari yang biasa saya lakukan. Salah satu contohnya, saya ingin mencari saham-saham yang bisnisnya berpotensi untuk turnaround. Karena selama beberapa tahun terakhir bisnisnya memburuk, saham-saham seperti ini tidak akan masuk ke dalam kriteria standar saya. Namun jika benar-benar berhasil untuk melakukan turnaround, saham-saham seperti itu akan memberikan keuntungan yang besar. 

Monday, May 13, 2013

The Financial Modelers' Manifesto


Emanuel Derman & Paul Wilmott have written a thought provoking article about the state of financial models and its implications with the global financial crisis of 2008: 

A spectre is haunting markets – the spectre of illiquidity, frozen credit, and the failure of financial models. 

Beginning with the 2007 collapse in subprime mortgages, financial markets have shifted to new regimes characterized by violent movements, epidemics of contagion from market to market, and almost unimaginable anomalies (who would have ever thought that swap spreads to Treasuries could go negative?). Familiar valuation models have become increasingly unreliable. Where is the risk manager that has not ascribed his losses to a once-in-a-century tsunami? 

To this end, we have assembled in New York City and written the following manifesto. 

Manifesto 

In finance we study how to manage funds – from simple securities like dollars and yen, stocks and bonds to complex ones like futures and options, subprime CDOs and credit default swaps. We build financial models to estimate the fair value of securities, to estimate their risks and to show how those risks can be controlled. How can a model tell you the value of a security? And how did these models fail so badly in the case of the subprime CDO market? 

Physics, because of its astonishing success at predicting the future behavior of material objects from their present state, has inspired most financial modeling. Physicists study the world by repeating the same experiments over and over again to discover forces and their almost magical mathematical laws. Galileo dropped balls off the leaning tower, giant teams in Geneva collide protons on protons, over and over again. If a law is proposed and its predictions contradict experiments, it’s back to the drawing board. The method works. The laws of atomic physics are accurate to more than ten decimal places. 

Wednesday, April 24, 2013

Attitude

The longer I live, the more I realized
Will influence attitudes in the life

Attitude is more important than knowledge, rather than money, than an opportunity, rather than failures, than successes, than whatever may be said or done somebody.

Attitude is more important
than appearance, gift, or skill.
The most amazing thing is we have the option to generate the attitude we have on that day.

We can not change the past
We can not change people's behavior
We can not change what would happen

One thing we can change
is one thing we can control, and that is our attitude.

I am increasingly convinced that life is
10 percent of what is actually happening to us, and 90 percent is how we deal with it attitude.

Finally: All the choice lies in your hands, there is no IF or BUT. You're the driver. You decide ... YOUR WAY OF LIFE!

Monday, April 15, 2013

Reksadana Indeks Versus ETF

ETF (Exchange-Traded Fund) merupakan wahana investasi yang relatif baru di negeri kita ini. Produk ETF yang ada saat ini ada dua, yaitu ABF IBI Fund dan Premier ETF LQ-45. ABF IBI Fund menggunakan portfolio indeks obligasi sebagai patokan sedangkan Premier ETF LQ-45 menggunakan indeks LQ-45 sebagai indeks patokan. 

Sebelum ETF muncul, kita telah terlebih dahulu mengenal reksa dana indeks, yaitu Danareksa Indeks Syariah. Reksa dana ini menggunakan indeks JII (Jakarta Islamic Index) sebagai acuan. Baik ETF maupun reksa dana indeks berusaha menirukan kinerja dari indeks acuannya. Lalu apa perbedaan keduanya?

 Reksa Dana Indeks 
Reksa dana indeks adalah reksa dana yang portfolionya terdiri atas saham-saham penyusun indeks tertentu. Proporsi kepemilikan saham oleh reksa dana indeks sebisa mungkin disamakan dengan komposisi indeks acuan tersebut sehingga diharapkan kinerjanya akan menyamai kinerja indeks acuan. 

Proses pembentukan reksa dana indeks sama dengan reksa dana pada umumnya. Mari kita perhatikan gambar berikut:




Manajer investasi akan membeli saham-saham di pasar sampai dengan komposisinya menyamai indeks. Tentu saja dalam perjalanannya nanti akan terjadi sedikit perbedaan kinerja dengan indeks acuan. Perbedaan ini disebut dengan tracking error. Setiap beberapa bulan sekali, manajer investasi akan menata ulang portfolionya untuk meminimalisasi tracking error ini. Manajer investasi kemudian menjual membeli unit penyertaan kepada para investor. 

Pembelian reksa dana indeks sama dengan reksa dana pada umumnya. Kita dapat membelinya di agen penjual reksa dana atau langsung ke manajer investasinya. Begitu juga jika kita ingin menjual unit reksa dana kita. NAB reksa dana indeks dapat kita lihat setelah berakhirnya sesi perdagangan harian. 

Karena reksa dana indeks memerlukan pengawasan yang relatif sedikit, maka management fee untuk MI biasanya cukup rendah. Untuk Danareksa Indeks Syariah, management fee tahunan maksimal 0.3% dari NAB. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pengelolaan reksa dana saham biasa yang bisa mencapai 2.5% per tahun. 

 ETF 
Pada tulisan ini, saya hanya akan membahas mengenai ETF saham karena memiliki underlying portfolio yang saham dengan reksa dana indeks yaitu saham. 

Hampir sama dengan reksa dana indeks, ETF berusaha untuk mereplikasi indeks tertentu agar kinerjanya sama dengan indeks acuan tersebut. Pembentukan ETF berbeda dengan reksa dana indeks. Mari kita perhatikan gambar berikut: 



Dealer partisipan akan membeli saham-saham di pasar dengan komposisi yang saham dengan indeks acuan sampai dengan jumlah tertentu. Saham-saham yang telah dibeli ini kemudian ditukarkan dengan unit kreasi yang dibuat oleh manajer investasi ETF. Setelah memiliki unit kreasi yang dimiliki oleh dealer partisipan dapat disimpan sendiri atau dijual ke pasar setelah dipecah-pecah dalam bentuk unit penyertaan. Satuan penjualan di pasar adalah lot (500 unit penyertaan). 

Jadi, perbedaan pertama antara ETF dengan reksa dana indeks adalah bagaimana cara pembentukannya. Pada ETF, yang berhak untuk bertransaksi dengan manajer investasi hanyalah dealer partisipan yang sering disebut juga dengan market maker. 

Sama halnya dengan reksa dana indeks, pengelolaan ETF juga bersifat pasif sehingga management fee nya pun relatif rendah jika dibandingkan dengan reksa dana saham pada umumnya. 

Perbedaan kedua adalah pihak yang menjual dan membeli unit penyertaan. Investor ETF hanya dapat membeli dan menjual unit penyertaan dari investor lain melalui pasar sekunder. Proses transaksinya sama persis dengan transaksi saham. Jadi saat membeli atau menjual unit penyertaan, kita tidak dikenai subscribe atau redeem fee melainkan komisi broker yang jumlanya bervariasi antara 0.2%-0.3% untuk pembelian dan 0.3%-0.4% untuk penjualan. Kesimpulannya untuk dapat berinvestasi di ETF, kita harus terdaftar sebagai nasabah suatu sekuritas. 

Perbedaan ketiga adalah penetapan harga unit penyertaan. Jika pada reksa dana indeks, NAV nya ditentukan berdasarkan nilai wajar dari aset yang dimilikinya, maka pada ETF, harganya tidak harus sama dengan NAV nya. Di samping itu, harga ETF akan diupdate secara kontinyu selama perdagangan di pasar berlangsung. Hal ini berbeda dengan reksa dana indeks di mana NAV nya hanya dapat kita ketahui 1 kali setiap harinya yaitu saat perdagangan di pasar telah berakhir. Harga unit penyertaan ETF ditentukan oleh transaksi antar investor di pasar. 

Perbedaan keempat adalah periode settlement. Jika kita ingin membeli reksa dana indeks, kita harus menyediakan dananya terlebih dahulu. Jika kita membeli ETF, kita tidak harus memiliki dananya saat itu juga, akan tetapi diberi waktu hingga 3 hari setelah transaksi (T+3). Adanya perbedaan ini disebabkan karena ETF diperlakukan sama dengan saham yang memiliki periode settlement 3 hari. 
Walaupun terdapat beberapa perbedaan, ETF dan reksa dana indeks memiliki persamaan: 
  
  • Portfolionya mengacu pada suatu indeks tertentu 
  • Biaya pengelolaan yang relatif rendah 

Lalu mana yang kita pilih?Jika kita adalah investor pasif, maka baik ETF maupun reksa dana indeks sama saja. Namun jika kita adalah investor aktif, maka ETF merupakan pilihan yang lebih baik karena dapat diperdagangkan secara real-time tanpa harus menunggu berakhirnya sesi perdagangan. Baik ETF maupun reksa dana menawarkan satu keunggulan yaitu memiliki kinerja yang menyamai indeks acuan dengan biaya pengelolaan rendah. 

Namun ada hal lain yang harus kita perhatikan. Saat ini volume perdagangan ETF sangat rendah sehingga mengakibatkan lebarnya spread (perbedaan) antara harga bid dan offer di pasar. FYI, ’bid’ adalah harga yang kita dapatkan jika ingin menjual ETF saat itu juga sedangkan ’offer’ adalah harga yang kita dapatkan jika kita ingin membeli ETF saat itu juga. 

Selain itu, karena tidak ada keharusan bahwa harga unit penyertaan ETF sama dengan NAV nya, maka terkadang terdapat perbedaan yang cukup besar antara harga dengan NAV nya. Jika kita jeli, maka kita dapat memanfaatkannya dengan membeli ETF jika harganya di bawah NAB dan menjualnya jika harganya lebih tinggi dari NAV nya. FYI, NAV ETF seharusnya sama dengan nilai indeks acuannya. 

Hal yang serupa dapat pula dilakukan oleh dealer partisipan untuk menambah keuntungan. Saat harga ETF lebih tinggi daripada indeks acuan, maka dealer partisipan akan membeli saham-saham penyusun portfolio ETF di pasar dan kemudian menjual unit kreasi yang dimilikinya kepada manajer investasi ETF. Demikian pula jika harga ETF lebih rendah daripada indeks acuannya, maka dealer partisipan dapat menjual saham-saham penyusun portfolio ETF dan menggunakan dana yang didapat untuk membeli unit kreasi dari manajer investasi ETF. Tindakan ini disebut dengan arbitrage. 

Demikian sedikit paparan mengenai ETF dan reksa dana indeks. Selamat berinvestasi!

Source : www.parahita.wordpress.com

Friday, March 1, 2013

Kolaborasi

Dahulu setiap pebisnis berusaha mencari lokasi yang jauh dari kompetitor. Namun, sekarang para pebisnis yang ada dalam satu industri berlomba untuk berkumpul bersama di sebuah sentra usaha. Maka sekarang kita lihat seperti sentra bisnis dengan produk atau jasa spesifik dan sejenis, ada sentra bisnis produk elektronik, pusat perdagangan tektil, sentra kuliner, bahkan sudah mulai ada sentra jasa lawyer yang berdampingan bersama-sama.

Orang tak takut lagi bersaing dengan tetangga, justru hidup berdampingan secara sehat. Dengan kata lain, orang tak sibuk lagi berkompetisi, tetapi dengan senang hati ingin berkolaborasi. Para pelaku bisnis tahu persis bahwa pasar terlalu kecil untuk diperebutkan satu sama lain, namun justru terlalu luas dan terbuka lebar untuk dikembangkan bersama-sama.

Ketika ekonomi dunia sedang mengalami turbulensi maha dashyat, tak satu negara pun sanggup menyelesaikannya sendiri. Termasuk negara adidaya seperti USA sekali pun sepakat bahwa semua negara harus bergandengan tangan mengatasi persoalan ini. Tiap individu, korporasi, dan juga pemerintah harus keluar dari semangat ultrakompetisi yang saling membunuh satu sama lain. Sebaliknya, hanya kolaborasilah yang mampu menciptakan inovasi terobosan untuk menyelesaikan pe rsoalan multidimensi.

Khususnya bagi dunia usaha, semangat kolaborasi bukan sekadar sebuah pilihan, melainkan sudah menjadi keniscayaan. Jika ingin tetap eksis, sebuah perusahaan harus membangun jejaring yang terbuka dengan pesaing, pelanggan, pemerintah, asosiasi pengusaha, komunitas  akademisi, serta mitra bisnis mereka.

Model inovasi tertutup yang ditempuh oleh sebuah organisasi tunggal adalah pendekatan masa lampau. Inovasi terbuka lewat kolaborasi antar institusi akan menjadi daya saing baru. Masalahnya, bagaimanakah bentuk kolaborasi yang cocok bagi perusahaan kita?

Pakar manajemen inovasi, Gary P. Pisano dan Roberto Vergantti, dalam tulisan Which Kind of Collaboration is Right for You? (HBR, Desember 2008), memperkenalkan empat model kolaborasi.

Elite Circle
Sebuah perusahaan memilih sekelompok orang tertentu yang diminta merumuskan masalah sekaligus juga mengajukan usulan pemecahannya.

Innovation Mall
Wahana bagi sebuah perusahaan untuk menempatkan masalahnya dan mengundang orang untuk mengusulkan pencerahan.  Setelah itu, perusahaan akan memilih solusi terbaik diantara ususlan yang ada. Salah satu contoh wahana ini dapat berupa website yang berfungsi menempatkan berbagai problem. Setiap orang bebas masuk ke website untuk memberikan komentar dan alternatif solusi atas problem yang diposting tersebut.

Innovation Community
Cara ini memungkinkan setiap orang mengajukan masalah apa pun, sekaligus menawarkan solusi apa pun. Secara kolektif mereka memutuskan solusi yang akan digunakan bersama. Contoh populer model ini adalah komunitas peranti lunak linux open source.

Consortium
Memilih beberapa perusahaaan mitra secara selektif untuk merumuskan masalah, menentukan mekanisme kerja, serta memutuskan solusi yang akan ditempuh. IBM memakai pendekatan ini dengan memilih beberapa perusahaan mitra untuk mengembangkan teknologi semikonduktor.

Setiap pemimpin harus memiliki pengertian tentang strategi perusahaan secara keseluruhan, sebelum memilih model kolaborasi yang akan ditempuh. Demikian juga setiap perusahaan harus mampu menawarkan sesuatu yang unik bagi proses kolaborasi tersebut, agar mampu terlibat secara aktif  sebagai pelaku.

Namun, apa pun model kolaborasi yang dipilih, saatnya dunia usaha sepakat membangun sinergi kolaborasi dalam memburu inovasi. Sudah bukan jamannya lagi perusahaan menutup diri dan sibuk menggarap inovasi seorang diri.

Source:  Ekuslie Goestiandi, Kontan, 23 Februari 2009

Wednesday, February 6, 2013

Belajar dari 'LEM'

Lem......ya lem atau perekat.....sesuatu yang sangat berkaitan dengan keseharian kita.....bahkan sangat penting.....hanya saja kita hampir-hampur tak sadar akan kegunaan kehadirannya...kecualiiii.....tentu saja saat kita membutuhkannya, kesannya pragmatis banget, ya! Tapi memang lem diciptakan sbg alat untuk membantu umat manusia dalam berkembang, sekarang bayangkan jika kita tak punya lem, bisa jadi tak ada surat rahasia, bisa jadi tak ada yang namanya sakuran air rumah tangga, bisa jadi tidak ada banyak mainan kecil seperti yang ada saat ini......sifatnya yang dirancang untuk bisa menyatukan serpihan-serpihan kecil sekalipun menjadi berdampak besar untuk keoraktisan hidup sehari-hari kita. Sifat dia yang likuid, merekatkan dan tak nampak secara kasat mata.........sungguh mencerminkan sesuatu yang tak nampak, seringkali tak drasakan kehadirannya namun berdampak pada kehidupan kita, merupakan sifat-sifat yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dalam berorganisasi dan berteman. 

Belajar dari lem: 
- Dalam berorganisasi: 
1. Berwawasan kerjasama yang erat ketimbang bersaing tidak sehat 
2. Berkecenderungan kolaborasi 
3. Luwes dan lugas dalam satu unit atau antar unit kerja 
4. Mementingkan tujuan bersama ketimbang menonjolkan diri sendiri 
5. Bersifat mempersatukan daripada memecahbelah 

- Dalam berteman: 
1. Berkecenderungan mendahulukn teman daripada kepuasan diri semata 
2. Lebih ikhlas dalam berinteraksi 
3. Mementingkan hububgan jangka panjang dan berusaha menjaga persahabatan yang ada 
4. Cenderung menjaga suasana damai dan ketentraman bersama ketimbang memihak salah. satu pihak 
5. Kehadirannya dapat menjafi pemersatu kelompok 
Lem..... ya lem..... 

Shared with Memoires for Android http://market.android.com/details?id=net.nakvic.dromoris http://sites.google.com/site/drodiary/

Thursday, January 31, 2013

Kompleksitas Kesuksesan dan Kebahagiaan

Anda seorang orang tua yang ingin dicintai anak-anak Anda. Karena itu, Anda meminta mereka untuk mencintai Anda. Mereka justru semakin menjauh.


Anda seorang yang sedang mencari cinta sejati. Karena itu, Anda menghabiskan waktu untuk perawatan kecantikan, berusaha menampilkan diri Anda yang terbaik dan sebisa mungkin menutupi kekurangan Anda. Anda ingin menunjukkan bahwa Anda lebih istimewa dibanding kandidat lainnya. Cinta sejati justru tidak pernah datang.

Anda seorang pemilik usaha yang ingin mencapai sukses setinggi-tingginya. Anda berusaha mencari segala cara untuk menurunkan biaya dan menaikkan harga. Dalam jangka pendek, cara tersebut kelihatan berhasil, namun perlahan-lahan pelanggan mulai meninggalkan produk-produk Anda.


Anda seorang pencari kebahagiaan. Anda berusaha menciptakan lingkungan yang bisa memberi Anda kesenangan terus menerus. Anda justru merasa bosan dan hampa.


Sementara itu, Anda melihat orang-orang yang kelihatannya tidak berupaya sekeras Anda justru berhasil menggapai apa yang Anda idam-idamkan.


Bila Anda (atau orang-orang yang Anda kenal) pernah mengalaminya, menurut John Kay, seorang ekonom terkemuka Inggris, hal itu adalah hasil dari prinsip obliquity. Kay berpendapat, hal-hal penting yang melibatkan partisipasi orang lain — seperti kekayaan berlimpah, cinta kasih, kebahagiaan — dan yang melibatkan sistem yang kompleks seperti kelestarian lingkungan hidup, lebih baik dicapai dengan cara-cara tidak langsung. Pencapaian yang dilakukan secara langsung, walau mungkin bisa memberikan sukses sesaat, namun dalam jangka panjang bisa menjadi bumerang.


Sepintas pendapat tersebut kedengaran kurang masuk akal. Bukankah orang-orang yang berusaha kaya akan berusaha lebih keras dibanding orang yang tidak melakukan apa-apa? Bukankah kerja keras sangat dihargai? Bukankah orang yang secara spesifik mencari pasangan hidup akan memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mendapatkan pendamping hidup?


Menurut Kay, dalam batas-batas tersebut, jawabannya adalah “YA”. Orang-orang yang berusaha untuk kaya secara rata-rata pasti lebih kaya dari yang tidak berusaha. Dan demikian juga untuk hal-hal lainnya. Namun, bila Anda ingin benar-benar kaya, benar-benar sukses, benar-benar bahagia, Anda dianjurkan untuk tidak mengejar tujuan tersebut secara langsung. Tentu saja Anda tetap harus bekerja keras, namun kerja keras tersebut dilakukan demi alasan lain.


Lihat saja daftar orang-orang kaya versi Forbes atau Fortune. Bill Gates, yang selalu menempati ranking orang terkaya di dunia selama beberapa tahun terakhir, tidaklah menghabiskan waktu untuk menghitung penghasilannya setelah mendirikan Microsoft. Apa yang ada di pikirannya adalah membuat sistem operasi dan perangkat lunak komputer yang lebih baik dan mengejar mimpinya untuk melihat setiap orang memiliki satu komputer. Demikian juga partnernya, Paul Allen. Setelah menjadi super milyuner, kedua orang ini tetap tidak mendewakan uang. Gates dan Allen adalah penyumbang aktif untuk organisasi-organisasi sosial. Kegiatan-kegiatan filantropis Gates dan Allen benar-benar tulus dan keluar dari lubuk hati terdalam mereka, bukan sekedar untuk membangun public image yang bagus. Pierre Omidyar dan Jeff Skoll, mendirikan eBay bukan karena berharap menjadi milyuner suatu saat nanti. Mereka melakukannya karena percaya pada kekuatan pasar bebas yang direplikasi di dunia maya. Baik Omidyar atau pun Skoll sekarang lebih aktif dalam dunia filantropis dibanding mengurusi eBay.


Dan orang kedua terkaya di dunia? Warren Buffett, sang investor nomor satu di Amerika Serikat. Buffet sampai saat ini masih tinggal di rumahnya di Omaha yang sudah ditempati 50 tahun. Mobilnya juga masih mobil lama meski kekayaannya hanya bisa diimbangi oleh Gates. Buffett sendiri mengaku dia tidak tertarik dengan uangnya, tapi proses penciptaan nilai lewat perusahaan-perusahaan yang dibelinya. Sekitar 90% kekayaan pribadi Buffett disumbangkan untuk tujuan amal.


Berbeda dengan pandangan umum, orang-orang yang super kaya tidak memikirkan uanguang, dan uang. Bagi mereka, uang justru merupakan hasil sampingan dari pengejaran mimpi mereka dengan gairah dan kepercayaan. (Untuk para wirausaha, kejarlah mimpi Anda, bukan uang.)


Dan siapa yang lebih berbahagia dan sukses menurut Anda: Bunda Theresa atau Michael Jackson? Dalai Lama atau Suharto? Negara paling bahagia sedunia? US? Prancis? Jepang? Australia? Italia? Bukan.. bukan.. Menurut World Values Surveys (WVS) yang dilakukan oleh University of Michigan, peringkat negara-negara paling bahagia tidak berkorelasi langsung dengan rata-rata pendapatan perkapita penduduknya. Memang di peringkat atas terdapat negara-negara kaya seperti Denmark dan Finlandia, tetapi negara-negara berkembang seperti Nigeria, Meksiko, Venezuela, El Salvador, dan Puerto Rico juga sering menempati posisi atas. Indonesia? Kita menduduki papan tengah dan masih lebih baik dari beberapa negara maju lainnya seperti Italia, Jepang, dan Korea Selatan. Yang menarik dari ranking ini adalah: negara-negara yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, tidak terlibat konflik bersenjata, dan tidak terlalu materialistis adalah negara-negara paling bahagia di dunia. Negara-negara maju yang aman dan memiliki tunjangan sosial yang baik (seperti Denmark dan Finlandia) juga memiliki peringkat yang tinggi. Sementara negara-negara maju yang menunjukkan kompetisi yang tinggi atau hedonis seperti Jepang tidak memiliki ranking yang terlalu baik. Paling parah adalah negara-negara yang masih dilanda konflik bersenjata di dalam negeri atau dengan negara lain seperti Irak atau Zimbabwe.


Prinsip obliquity ini masuk akal karena kita hidup di dunia yang digerakkan oleh sistem yang kebanyakan komponennya di luar kendali kita. Logika sederhana “Bila A lalu B” tidak laku di sini. Yang terjadi umumnya adalah: “Bila A, lalu B dan C; B mempengaruh C dan D; D mempengaruhi A, dst…” Belum lagi bila kita berhadapan dengan sesama manusia yang tingkah lakunya sukar diprediksi. Karena itu, pengejaran tujuan yang bersifat langsung kadang sulit diprediksi keberhasilannya.


Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencapai hal-hal penting tersebut?


Kita jelas tidak bisa menemukan jawaban lengkap. John Kay juga tidak berani menawarkan jawaban. Tapi, hal-hal yang diajarkan oleh agama dan orang-orang bijak sejak ribuan tahun lalu mungkin bisa dijadikan titik awal (paling tidak, bila ajaran tersebut mampu bertahan ribuan tahun, pasti ada alasannya). Berdoa dan percaya pada Tuhan. Kenali dan jadilah diri sendiri. Bersikap jujur. Berilah sebelum meminta. Berilah cinta tanya syarat. Kerja keras. Tekun. Temukan tujuan hidupmu dan jalankan. Tidak mudah memang, tapi bisa jadi itu juga alasan mengapa sedikit dari kita yang bisa benar-benar mencapai hal-hal penting tersebut.

Thursday, January 3, 2013

Kompleksitas Dan Kecerdasan (Sebuah Perenungan)


Dalam buku In Search of Excellence (Tom Peters & R.H. Waterman), ada secuil cerita menarik yang mereka dengar dari Gordon Siu. Siu menceritakan tentang eksperimen di mana beberapa ekor lebah dan beberapa ekor lalat ditempatkan di dalam sebuah botol. Botol tersebut lalu diletakkan horisontal (memanjang) dengan bagian pantatnya yang tertutup dihadapkan ke jendela yang terkena sinar matahari, sementara bagian leher botol yang terbuka membelakangi jendela.
Lebah-lebah, yang terkenal sebagai salah satu serangga tercerdas, mati-matian berusaha keluar dari botol dengan terbang menuju ke arah cahaya (jendela). Karena cerdas, mereka berusaha mencari jalur terdekat untuk pulang ke rumah. Karena itu, mereka bertekad terbang menuju ke arah jendela apa pun resikonya. Namun karena arah tersebut tertutup bagian belakang botol, usaha mereka berakhir tragis. Para lebah akan mencoba terus sampai mati kecapaian.
Sementara lalat, yang terkenal sebagai serangga bodoh dengan otak secuil, terbang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Walau demikian, perlahan-lahan tapi pasti, satu per satu dari mereka berhasil menemukan jalan keluar melalui leher botol.
Apa artinya hasil eksperimen tersebut buat kita?
Kecerdasan dan ketekunan belaka ternyata bukanlah modal utama buat sukses, terutama bila kondisi berubah drastis. Tujuan kita boleh tetap, tetapi kita terkadang harus mengambil jalan memutar bila ingin sampai di tujuan. Lebah yang cerdas memang akan mencapai tujuan lebih cepat dibanding lalat bila tidak ada halangan, tetapi bila ada halangan menanti atau lingkungan berubah (terperangkap di dalam botol yang diletakkan membelakangi jendela), sikap keras kepala mereka akan berbuah bencana. Justru upaya coba-coba yang dilakukan lalat adalah strategi yang lebih tepat.
Kecerdasan dan keahlian sering juga membutakan kita dengan membuat kita melihat masalah melalui kaca mata kuda. Bila kita memegang palu, semua kelihatan seperti paku. Kita hanya bisa melihat satu arah saja tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain, sementara untuk menghadapi perubahan, fleksibilitas lebih dibutuhkan.
Hal yang sama juga berlaku untuk penentuan strategi perusahaan dan rencana masa depan pribadi. Dalam konteks dunia yang berubah cepat ini, apakah strategi yang Anda jalankan mengikuti cara lebah yang keras kepala, atau lalat yang mencoba berbagai alternatif lain ketika menemui kegagalan?

Tuesday, January 1, 2013

The 2013 Verdict

Tahun baru......it's become an annualy habit said some people.....some people said "Hari gini masih ngerayain tahun baru!!!".......Dan kita masing-masing punya beragam cara, aktivitas utk menutup akhir tahun. Bagi saya ndak masalah kalau kita merayakan tahun baru, kedatangan suatu awal baru, hanya saja yang terpenting adalah kita sungguh mendapatkan manfaat positif dari aktivitas dalam menyambut tahun baru tersebut.
Nah, melalui perenungan akhir tahun 2012 lalu saya bertanya- tanya sendiri kenapa sich kita harus ada perayaan tahun baru?
Esensi yang saya dapatkan dari hasil perenungan tentang hal ini adalah kita butuh suatu awal yang mengesankan, kita butuh semangat yang diperlukan untuk mengisi periode satu tahun akan datang, kita terbiasa dengan kebiasaan mengawali dan mengakhiri dengan sesuatu yang mengesankan, dan di atas segalanya seperti yang Abraham Maslow katakan kebutuhan tertinggi manusia bukanlah materi belaka tapi apresiasi terhadap diri kita (Self Esteem), maksudnya untuk menghargai diri kita sendiri, menghadiahi diri sendiri untuk menjadi semangat mengisi tahun yang baru.
Jadi di sini yang terpenting apa sich makna perayaan itu sendiri bagi kita? Kalau aktivitas perayaan tahun baru semata-mata untuk menghabiskan waktu akhir tahun bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja dan kita sendiri hanya mendapatkan diri kitadi tanggal 1 Januari tahun baru hanya rasa kantuk berat, cape, dan lebih-lebih ada semacam perasaan kekosongan atau datar untuk menjalani tahun baru, menurut saya kita perlu instropeksi bagaimana cara kita menghabiskan waktu akhir tahun.
Betul, saya setuju bahwa periode satu tahun telah lalu dengan segala kepenatan, stress kerjaan, atau seribu alasan lainnya. Namun walaupun Abraham Maslow bilang kebutuhan tertinggi kita adalah self esteem, tentunya kita harus menempatkan arti penghargaan diri dalam arti positif. Maksudnya disini adalah ......"Kesinambungan pengembangan diri kita dalam mencapai potensi optimum kita dalam segala aspek kehidupan"..... itulah esensi dari perayaan tahun baru menurut saya yang dalam segala bentuknyaa jangan sampai hilang ketika kita menyambut tahun baru......So itulah yang saya dapatkan kemarin....Selamat mengisi dan menjalani tahun 2013 dengan segala keindahannya!!!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...