Thursday, June 30, 2011

The Face of Contradiction

" Sebuah piano umumnya memiliki dua warna tuts, satu berwarna putih dan satu lagi berwarna hitam. Sebuah komposisi lagu bisa dimainkan hanya dengan salah satu warna tus tersebut, namun kebanyakan komposisi yang indah memainkan keduanya sehingga terciptalah lantunan nada yang harmonis."
 "Kontradiksi"....sebuah istilah yang sangat dijauhi oleh para saintis sejak dahulu kala. Sebuah teori dikatakan elegan, indah, dan bagus adalah teori yang sama sekali tidak memiliki kontradiksi di dalamnya....mulai dari jamannya Anaxigoras sampai ke jamannya Imanuel Kant, dari Archimedes sampai ke Karl Marx....sepanjang era perkembangan metode ilmiah dalam konstruksi sebuah teori, sangat dihindari yang namanya "Kontradiksi".

Sederhananya kontradiksi adalah ketidakkonsistenan dari sebuah teori/postulat. Menurut wikipedia hukum kontradiksi adalah:
"Hukum kontradiksi atau principium contradictionis (Bahasa Inggris: law of contradiction) adalah aturan yang menyatakan bahwa tidak mungkin sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu. Maksudnya: mustahil sesuatu itu adalah hal satu dan bertentangan pada waktu yang bersamaan."
Namun sepanjang perkembangan peradaban manusia "lomtradiksi' selalu hadir dan mengahntui diberbagai ranah ilmu pengetahuan. Mulai dari filsafat yang sering dianggap sebagai rajanya pengetahuan, Matematika (he Queen of Science) samapai ke ilmu logika formal, dari fisika samapai ke genetika selalu didapati kontradiksi di dalamnya. Di ranah perjalanan Kitab Suci pun tak luput dari yang namanya kontradiksi. Dalam tataran ilmu ekonomi pun dari aliran Keynes pun sebenarnya sudah ditemukan adanya kontradikisi, hanya saja pada waktu itu belum mengemuka. Kontradiksi dalam ekonomi benar-benar muncul ke permukaan saat Karl Marx mengungkapkannya dalam Das Kapital. Dia menjelaskan adanya kontradiksi nilai dari material yang kita gunakan, dalam sebuah komoditi terkandung Nilai Guna dan Nilai Tukar yang saling berkontradiksi. Kita berusaha untuk mendapatkan sebuah komoditi dengan harga semurah mungkin, namun menurut beliau ada perilaku aneh dalam diri manusia, dimana komoditi tadi terkadang bukannya digunakan untuk sendiri akan tetapi bisa dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan. Di sini peranan Nilai Tukar dari sebuah komoditi menjadi perhatian utama.

Lalu bagaimana dengan kehidupan sehari-hari kita? 

Saya kira, sudah jelas bahwa kita akan selalu menghadapinya dalam semua aspek kehidupan. Dalam dunia kerja, kita yang positif pastilah dengan penuh semangat untuk memberi yang terbaik kepada perusahaan tempat dimana kita bekerja, akan tetapi disaaat yang sama sebenarnya kita juga sedang menanam benih yang kemudian hari dapat berbuah dengan baik untuk kita petik, yaitu promosi dalam segala bentuknya. Di sini saya tidak akan bahas hal ini dikaitkan dnegan masalah moral etis, barangkali dilain waktu kita akan bahas.

Bagaimana sikap kita terhadap kontradiksi-kontradiksi ini? 

Karl Popper, seorang filsuf ternama mengatakan "Akan sangat berbahaya bagi sebuah ilmu pengetahuan jika sudah tidak ada yang dapat dipertanyakan atau dipermasalahkan lagi terkait dengan kesahihannya."

Engels pun bernada serupa, beliau mengatakan bahwa kontradiksi akan selalu ada dalam segala bentuknya, namun keberadaannya ini lah yang akan membuat peradaban, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan umat manusia akan semakin berkembang.
Saya sendiri menyikapi hal ini sebagai bagian dari pencarian dan perjuangan umat manusia untuk terus menerus menjadi serupa dengan Sang Khalik. Saya teringat akan sebuah janji dalam sabdaNya yang mengatakan: 
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahakan kepadamu." (Matius 6:33)
Berdasasrkan janji tersebut, saya memandang bahwa segala kontradiksi-kontradiksi yang ada akan selalu ada. Namun keberadaanya pula lah yang akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemajuan peradaban umat manusia, lebih khusus lagi dari pencarian manusia akan rahasia kehidupan atau upaya manusia untuk memahami segala dinamika dari alam semesta ini beserta isinya dengan segala kompleksitasnya.
Dan janji itu sedang dalam penggenapannya menurut saya!

Iya, sudut pandang yang saya gunakan di sini dengan melihat perkembangan yang sedang terjadi dalam dunia ilmu pengetahuan dimana keberadaan kontradiksi-kontradiksi tadi sedang dan sudah memiliki wadah pencarian yang menamakan dirinya teori kompleksitas, teori chaos, teori kuantum, teori relativitas, dll. 

Dimana  para ilmuwan semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan masih jauh dari sempurna dan dalam upaya untuk mencapainya memiliki arah dari yang tadinya bersifat reduksionis mulai masuk ke dalam eksplorasi secara holistik. 

Dalam kerendahhatian sebagai insani ciptaanNya, keberadaan kontradiksi akan terus ada samapai segala sesuatunya sudah tergenapi. 

Jadi segala kontradiksi yang terjadi hendaknya dipandang sebagai suatu peluang bagi kita untuk terus maju, sebagai kesempatan untuk dapat memahami segala kompleksitas alam semesta ini di dalam kerendahhatian sebagai ciptaanNya. Sehingga kontradiksi-kontradiksi ini akan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengungkapan rahasia terbesar alam semesta.

Sunday, June 26, 2011

Sang Pianis dan Sang Anak Kecil

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh. Sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut.

Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle-twinkle little star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata, "Teruslah bermain" dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi besar kepala, pikirnya, "Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!" Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ?

Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa bahwa semua itu terjadi karena Tuhan ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Tuhan di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Tuhan ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita. Semoga kita tidak pernah
lupa bahwa ada Tuhan di samping kita.

Source: pondok-cerita.blogspot.com

Thursday, June 23, 2011

Best Photo 2010 - Photoradar

Wednesday, June 22, 2011

Decision Making Process In Solving A Problem

 1. What is Decision Making?

Decision-making is an essential aspect of modern management. It is a primary function of management. A manager's major job is sound/rational decision-making. He takes hundreds of decisions consciously and subconsciously. Decision-making is the key part of manager's activities. Decisions are important as they determine both managerial and organizational actions. A decision may be defined as "a course of action which is consciously chosen from among a set of alternatives to achieve a desired result." It represents a well-balanced judgment and a commitment to action.

It is rightly said that the first important function of management is to take decisions on problems and situations. Decision-making pervades all managerial actions. It is a continuous process. Decision-making is an indispensable component of the management process itself.

Means and ends are linked together through decision-making. To decide means to come to some definite conclusion for follow-up action. Decision is a choice from among a set of alternatives. The word 'decision' is derived from the Latin words de ciso which means 'a cutting away or a cutting off or in a practical sense' to come to a conclusion. Decisions are made to achieve goals through suitable follow-up actions. Decision-making is a process by which a decision (course of action) is taken. Decision-making lies embedded in the process of management.


According to Peter Drucker, "Whatever a manager does, he does through decision-making". A manager has to take a decision before acting or before preparing a plan for execution. Moreover, his ability is very often judged by the quality of decisions he takes. Thus, management is always a decision-making process. It is a part of every managerial function. This is because action is not possible unless a firm decision is taken about a business problem or situation.

This clearly suggests that decision-making is necessary in planning, organising, directing, controlling and staffing. For example, in planning alternative plans are prepared to meet different possible situations. Out of such alternative plans, the best one (i.e., plan which most appropriate under the available business environment) is to be selected. Here, the planner has to take correct decision. This suggests that decision-making is the core of planning function. In the same way, decisions are required to be taken while performing other functions of management such as organising, directing, staffing, etc. This suggests the importance of decision-making in the whole process of management.

The effectiveness of management depends on the quality of decision-making. In this sense, management is rightly described as decision-making process. According to R. C. Davis, "management is a decision-making process." Decision-making is an intellectual process which involves selection of one course of action out of many alternatives. Decision-making will be followed by second function of management called planning. The other elements which follow planning are many such as organising, directing, coordinating, controlling and motivating.

Decision-making has priority over planning function. According to Peter Drucker, it is the top management which is responsible for all strategic decisions such as the objectives of the business, capital expenditure decisions as well as such operating decisions as training of manpower and so on. Without such decisions, no action can take place and naturally the resources would remain idle and unproductive. The managerial decisions should be correct to the maximum extent possible. For this, scientific decision-making is essential.

 2. Definitions of Decision-making

  1. The Oxford Dictionary defines the term decision-making as "the action of carrying out or carrying into effect".
  2. According to Trewatha & Newport, "Decision-making involves the selection of a course of action from among two or more possible alternatives in order to arrive at a solution for a given problem".

3. Characteristics of Decision Making

  1. Decision making implies choice: Decision making is choosing from among two or more alternative courses of action. Thus, it is the process of selection of one solution out of many available. For any business problem, alternative solutions are available. Managers have to consider these alternatives and select the best one for actual execution. Here, planners/ decision-makers have to consider the business environment available and select the promising alternative plan to deal with the business problem effectively. It is rightly said that "Decision-making is fundamentally choosing between the alternatives". In decision-making, various alternatives are to be considered critically and the best one is to be selected. Here, the available business environment also needs careful consideration. The alternative selected may be correct or may not be correct. This will be decided in the future, as per the results available from the decision already taken. In short, decision-making is fundamentally a process of choosing between the alternatives (two or more) available. Moreover, in the decision-making process, information is collected; alternative solutions are decided and considered critically in order to find out the best solution among the available. Every problem can be solved by different methods. These are the alternatives and a decision-maker has to select one alternative which he considers as most appropriate. This clearly suggests that decision-making is basically/fundamentally choosing between the alternatives. The alternatives may be two or more. Out of such alternatives, the most suitable is to be selected for actual use. The manager needs capacity to select the best alternative. The benefits of correct decision-making will be available only when the best alternative is selected for actual use.
  2. Continuous activity/process: Decision-making is a continuous and dynamic process. It pervades all organizational activity. Managers have to take decisions on various policy and administrative matters. It is a never ending activity in business management.
  3. Mental/intellectual activity: Decision-making is a mental as well as intellectual activity/process and requires knowledge, skills, experience and maturity on the part of decision-maker. It is essentially a human activity.
  4. Based on reliable information/feedback: Good decisions are always based on reliable information. The quality of decision-making at all levels of the Organisation can be improved with the support of an effective and efficient management information system (MIS).
  5. Goal oriented process: Decision-making aims at providing a solution to a given problem/ difficulty before a business enterprise. It is a goal-oriented process and provides solutions to problems faced by a business unit.
  6. Means and not the end: Decision-making is a means for solving a problem or for achieving a target/objective and not the end in itself.
  7. Relates to specific problem: Decision-making is not identical with problem solving but it has its roots in a problem itself.
  8. Time-consuming activity: Decision-making is a time-consuming activity as various aspects need careful consideration before taking final decision. For decision makers, various steps are required to be completed. This makes decision-making a time consuming activity.
  9. Needs effective communication: Decision-taken needs to be communicated to all concerned parties for suitable follow-up actions. Decisions taken will remain on paper if they are not communicated to concerned persons. Following actions will not be possible in the absence of effective communication.
  10. Pervasive process: Decision-making process is all pervasive. This means managers working at all levels have to take decisions on matters within their jurisdiction.
  11. Responsible job: Decision-making is a responsible job as wrong decisions prove to be too costly to the Organisation. Decision-makers should be matured, experienced, knowledgeable and rational in their approach. Decision-making need not be treated as routing and casual activity. It is a delicate and responsible job.

4. Advantages of Decision Making

  1. Decision making is the primary function of management: The functions of management starts only when the top-level management takes strategic decisions. Without decisions, actions will not be possible and the resources will not be put to use. Thus decision-making is the primary function of management.
  2. Decision-making facilitates the entire management process: Decision-making creates proper background for the first management activity called planning. Planning gives concrete shape to broad decisions about business objectives taken by the top-level management. In addition, decision-making is necessary while conducting other management functions such as organising, staffing, coordinating and communicating.
  3. Decision-making is a continuous managerial function: Managers working at all levels will have to take decisions as regards the functions assigned to them. Continuous decision making is a must in the case of all managers/executives. Follow-up actions are not possible unless decisions are taken.
  4. Decision-making is essential to face new problems and challenges: Decisions are required to be taken regularly as new problems, difficulties and challenges develop before a business enterprise. This may be due to changes in the external environment. New products may come in the market, new competitors may enter the market and government policies may change. All this leads to change in the environment around the business unit. Such change leads to new problems and new decisions are needed.
  5. Decision-making is a delicate and responsible job: Managers have to take quick and correct decisions while discharging their duties. In fact, they are paid for their skill, maturity and capacity of decision-making. Management activities are possible only when suitable decisions are taken. Correct decisions provide opportunities of growth while wrong decisions lead to loss and instability to a business unit.

5. Steps Involved In Decision Making Process


Decision-making involves a number of steps which need to be taken in a logical manner. This is treated as a rational or scientific 'decision-making process' which is lengthy and time consuming. Such lengthy process needs to be followed in order to take rational/scientific/result oriented decisions. Decision-making process prescribes some rules and guidelines as to how a decision should be taken / made. This involves many steps logically arranged. It was Peter Drucker who first strongly advocated the scientific method of decision-making in his world famous book 'The Practice of Management' published in 1955. Drucker recommended the scientific method of decision-making which, according to him, involves the following six steps:
  1. Defining / Identifying the managerial problem,
  2. Analyzing the problem,
  3. Developing alternative solutions,
  4. Selecting the best solution out of the available alternatives,
  5. Converting the decision into action, and
  6. Ensuring feedback for follow-up.

The figure given below suggests the steps in the decision-making process:-

Decision Making Process

  1. Identifying the Problem: Identification of the real problem before a business enterprise is the first step in the process of decision-making. It is rightly said that a problem well-defined is a problem half-solved. Information relevant to the problem should be gathered so that critical analysis of the problem is possible. This is how the problem can be diagnosed. Clear distinction should be made between the problem and the symptoms which may cloud the real issue. In brief, the manager should search the 'critical factor' at work. It is the point at which the choice applies. Similarly, while diagnosing the real problem the manager should consider causes and find out whether they are controllable or uncontrollable.
  2. Analyzing the Problem: After defining the problem, the next step in the decision-making process is to analyze the problem in depth. This is necessary to classify the problem in order to know who must take the decision and who must be informed about the decision taken. Here, the following four factors should be kept in mind:
    1. Futurity of the decision,
    2. The scope of its impact,
    3. Number of qualitative considerations involved, and
    4. Uniqueness of the decision.
  3. Collecting Relevant Data: After defining the problem and analyzing its nature, the next step is to obtain the relevant information/ data about it. There is information flood in the business world due to new developments in the field of information technology. All available information should be utilised fully for analysis of the problem. This brings clarity to all aspects of the problem.
  4. Developing Alternative Solutions: After the problem has been defined, diagnosed on the basis of relevant information, the manager has to determine available alternative courses of action that could be used to solve the problem at hand. Only realistic alternatives should be considered. It is equally important to take into account time and cost constraints and psychological barriers that will restrict that number of alternatives. If necessary, group participation techniques may be used while developing alternative solutions as depending on one solution is undesirable.
  5. Selecting the Best Solution: After preparing alternative solutions, the next step in the decision-making process is to select an alternative that seems to be most rational for solving the problem. The alternative thus selected must be communicated to those who are likely to be affected by it. Acceptance of the decision by group members is always desirable and useful for its effective implementation.
  6. Converting Decision into Action: After the selection of the best decision, the next step is to convert the selected decision into an effective action. Without such action, the decision will remain merely a declaration of good intentions. Here, the manager has to convert 'his decision into 'their decision' through his leadership. For this, the subordinates should be taken in confidence and they should be convinced about the correctness of the decision. Thereafter, the manager has to take follow-up steps for the execution of decision taken.
  7. Ensuring Feedback: Feedback is the last step in the decision-making process. Here, the manager has to make built-in arrangements to ensure feedback for continuously testing actual developments against the expectations. It is like checking the effectiveness of follow-up measures. Feedback is possible in the form of organised information, reports and personal observations. Feed back is necessary to decide whether the decision already taken should be continued or be modified in the light of changed conditions.
Every step in the decision-making process is important and needs proper consideration by managers. This facilitates accurate decision-making. Even quantitative techniques such as CPM, PERT/OR, linear programming, etc. are useful for accurate decision-making. Decision-making is important as it facilitates entire management process. Management activities are just not possible without decision-making as it is an integral aspect of management process itself. However, the quality of decision-making should be always superior as faulty/irrational decisions are always dangerous.

Various advantages of decision-making (already explained) are easily 'available when the entire decision-making process is followed properly. Decisions are frequently needed in the management process. However, such decisions should be appropriate, timely and rational. Faulty and hasty decisions are wrong and even dangerous. This clearly suggests that various advantages of decision-making are available only when scientific decisions are taken by following the procedure of decision-making in an appropriate manner.
For accurate/rational decision-making attention should be given to the following points:
  1. Identification of a wide range of alternative courses of action i.e., decisions. This provides wide choice for the selection of suitable decision for follow-up actions.
  2. A careful consideration of the costs and risks of both positive and negative consequences that could follow from each alternation.
  3. Efforts should be made to search for new information relevant to further evaluation of the alternatives. This is necessary as the quality of decision depends on the quality of information used in the decision-making process.
  4. Re-examination of the positive and negative effects of all known alternatives before making a final selection.
  5. Arrangements should be made for implementing the chosen course of action including contingency plans in the event that various known risks were actually to occur.
  6. Efforts should be made to introduce creativity and rationality in the final decision taken.

6. Why Rational and Right Decisions Are Not Possible?

Rational decisions are the best decisions under the available circumstances. All decisions should be rational as such decisions facilitate expansion of business and give more profit, goodwill and prosperity to a business unit. Rationality and decision-making are closely related concepts. Rationality principle is applicable to all types of decisions. All decisions (business, economic, social etc.) should be fair and rational. They should serve as examples over a long period. For such decisions, rational/scientific/balanced approach is essential while making decisions. In the absence of such approach, decisions are likely to be faulty and dangerous to the Organisation and also to all concerned parties.

Rationality in decision-making is possible through human brain which has the ability to learn, think, analyze and relate complex facts and variables while arriving at a decision. A manager has to introduce rationality in his decision-making by using his skills, experience, knowledge and mental abilities.

On some occasions, such rational and right decisions are not taken due to variety of possible reasons. It is also possible that the decision taken may be rational when taken but is treated as wrong/irrational/faulty because' the results available from the decision taken are not as expected/positive/encouraging. Rational decisions may not be possible when the approach of the decision-maker is casual and superficial. He may not be alert, careful and cautious while taking the decisions or he might not have followed the decision-making process in a scientific manner. In brief, all business decisions should be rational as far as possible as such rational decisions offer many benefits/advantages. However, rational decisions may not be taken on certain occasions. According to Herbert A. Simon, human beings are not always rational in the decisional process.

7. Reasons Why Rational and Right Decisions May Not Be Possible?

  1. Inadequate information, data and knowledge: For rational decision-making accurate, reliable and complete information about various aspects of the problem under investigation is necessary. The possible future trends can be estimated with the help of such information. This facilitates rational decision-making. However, adequate and reliable information may not be available at the time of decision-making. As a result, the decisions become defective or irrational. Such decision may prove to be faulty in the course of time. This is how the decisions become irrational to certain extent.
  2. Uncertain environment: Decisions are taken on the basis of information available about various environmental variables. However, the variables are many and complex in nature. They may be related to political, economic, social and other aspects. It is not possible to study all such variables in depth due to inadequate information/data. This leads to inaccuracy in decision making and the decisions taken are not fully rational.
  3. Limited capacity of decision-maker. A decision-maker should be expert, knowledgeable, intelligent and matured. He needs vision and capacity to imagine possible future situation. In the absence of such qualities, the decision-maker may not be able to take rational decisions. Similarly, the decision taken may not be rational if the decision-maker fails to follow all necessary steps required for scientific decision-making. A hasty decision or decision taken without full use of all mental faculties may not be fully rational. Thus, decisions are likely to be less rational if the decision maker lacks capacity to take rational decisions.
  4. Personal element in decision-making: Decision-making should be always impartial and also favorable to the Organisation. Decision against Organisation but favorable to decision maker or other employees will be unfair. Such decision will not be rational. Similarly, every decision-maker has his own personal background in the form of personal beliefs, attributes, preferences, likes and dislikes and so on. A decision-maker is expected to keep these elements away while taking management decisions. This may not be possible in the case of all decision-makers and on all occasions. However, decisions are not fully rational when such personal element comes in the picture.
  5. A decision cannot be fully independent: Managerial decisions are interlinked and interdependent. A manager has to make adjustments or compromises while making decisions. For example, for reducing price, some compromise with the quality may be necessary. A manager gives more importance to one and less to the other. He takes one decision which is rational at the same time makes some compromise in the other decision. As a result, other decision is not likely to be fully rational. In short, business decisions are interlinked. This brings an element of irrationality in some decisions.
The points noted above suggest why it is not possible to take rational and right decisions on all occasions.

8. Relationship Between Planning and Decision-making

There is close relationship between planning and decision-making. Decision-making has priority over planning function. It is the starting point of the whole management process. In fact, decision-making is a particular type of planning. A decision is a type of plan involving commitment to resources for achieving specific objective. According to Peter Drucker, it is the top management which is responsible for all strategic decisions such as the objectives of the business, capital expenditure decisions as well as operating decisions such as training of manpower and so on. Without management decisions, no action can take place and naturally the resources would remain idle and unproductive. The managerial decisions should be correct to the maximum extent possible. For this, scientific decision-making is essential.
Source : http://kalyan-city.blogspot.com/2010/06/decision-making-process-in-management.html

Positive Mindset dalam Empat Level Gelombang Otak


Dalam tulisan mengenai Law of Attaction (Hukum Tarik Menarik) — yang bisa Anda baca disini dan disini — kita telah membahas mengenai betapa sesungguhnya pola pikir dan rajutan imajinasi kita memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sejarah masa depan hidup kita.
Demikianlah, jika kita selalu mampu menganyam pola pikir yang guyub dengan energi positif – dengan energi tentang keyakinan-diri, dengan pancaran optimisme yang kokoh, dan dengan sikap hidup yang selalu penuh rasa sukur – maka ada peluang besar bahwa hidup sejati kita akan benar-benar dilimpahi oleh sederet narasi tentang keberhasilan.

Sebaliknya, jika bentangan hidup kita selalu diharu-biru oleh rajutan pola pikir yang negatif – tentang bayangan kelam kegagalan, tentang rasa tak percaya diri, tentang kegamangan, dan sikap hidup yang selalu mengeluh serta menyalahkan pihak lain (tanpa mau jernih melakukan introspeksi) – maka besar kemungkinan hidup nyata kita benar-benar akan dipenuhi dengan elegi pilu kemalangan dan kenestapaan.
Itulah mengapa kaum bijak bestari memberi petuah agar kita bisa selalu melentikkan api optimisme dalam diri kita dan juga mampu merawat pola pikir positif. Positif melihat masa depan kita, positif melihat segenap tantangan yang menghadang, dan positif dalam berpikir serta berimajinasi.
Soalnya kemudian adalah : menginjeksikan daya positif ke dalam sel-sel otak kita ternyata tak semudah membikin indomie rebus. Acap ketika dihadapkan pada tantangan yang membuncah atau kerumitan masalah yang menghadang, pikiran kita langsung goyah dan berpikir : ah, saya memang tidak mampu melakukannya…..saya mungkin tidak bisa meraih impian yang saya cita-citakan…..yah, memang ini suratan nasib saya…….(Duh!).
Jadi bagaimana duuoong? Apa yang mesti dilakoni agar mentalitas positif dan spirit keyakinan itu tak langsung layu ketika badai tantangan datang menghadang? Apa yang mesti diziarahi agar virus positiv itu terus menancap dalam serat otak kita bahkan ketika lautan masalah terus menggelora, menghantam biduk perjalanan kita?
Beruntung, para ahli saraf (neurolog) telah menemukan jawabannya. Dan jawabannya terletak pada empat level gelombang otak kita. Melalui serangkaian eksperimen dan alat ukur yang bernama EEG (Electro EncephaloGram), mereka menemukan ternyata terdapat empat level getaran dalam otak kita. Mari kita simak bersama empat gelombang kesadaran itu.
Beta (14 – 100 Hz). Dalam frekuensi ini kita tengah berada pada kondisi aktif terjaga, sadar penuh dan didominasi oleh logika. Inilah kondisi normal yang kita alami sehari-hari ketika sedang terjaga (tidak tidur). Kita berada pada frekuensi ini ketika kita bekerja, berkonsentrasi, berbicara, berpikir tentang masalah yang kita hadapi, dll. Dalam frekuensi ini kerja otak cenderung memantik munculnya rasa cemas, khawatir, stress, dan marah. Gambar gelombang otak kita dalam kondisi beta adalah seperti dibawah ini.
400px-eeg_betasvg.png
Alpha (8 – 13.9 Hz). Ketika otak kita berada dalam getaran frekuensi ini, kita akan berada pada posisi khusyu’, relaks, meditatif, nyaman dan ikhlas. Dalam frekuensi ini kerja otak mampu menyebabkan kita merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Berikut gambar gelombang alpha.
400px-eeg_alphasvg.png
Theta (4 – 7.9 Hz). Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan berada pada kondisi sangat khusyu’, keheningan yang mendalam, deep-meditation, dan “mampu mendengar” nurani bawah sadar. Inilah kondisi yang mungkin diraih oleh para ulama dan biksu ketika mereka melantunkan doa ditengah keheningan malam pada Sang Ilahi. Berikut gambar gelombang otak kita ketika berada dalam kondisi theta.
400px-eeg_thetasvg.png
Delta (0,1 – 3,9 Hz). Frekuensi terendah ini terdeteksi ketika orang tengah tertidur pulas tanpa mimpi. Dalam frekuensi ini otak memproduksi human growth hormone yang baik bagi kesehatan kita. Bila seseorang tidur dalam keadaan delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi. Meski tertidur hanya sebentar, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar.
Nah, penyelidikan menunjukkan bahwa proses penumbuhan keyakinan positif dalam pikiran kita akan berlangsung dengan optimal jika otak kita tengah berada pada kondisi Alpha (atau juga kondisi Theta). Dalam frekuensi inilah, kita bisa menginjeksikan energi positif dalam setiap jejak sel saraf kita secara mulus. Apabila kita merajut keyakinan positif dan visualisasi keberhasilan dalam kondisi alpha, maka rajutan itu benar-benar akan menembus alam bawah sadar kita. Pada gilirannya, hal ini akan memberikan pengaruh yang amat dahsyat pada pola perilaku kita ketika berproses menuju puncak keberhasilan yang diimpikan.
Pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana caranya agar kita bisa berada kondisi alpha?
Bagi Anda yang muslim, ada satu langkah yang mujarab : sholat tahajud di tengah keheningan malam (Jika Anda beragama Kristen, mungkin medianya adalah dengan melakukan “retreat”).
Begitulah, para kaum bijak bestari berkisah, dalam momen-momen kontemplatif ketika bersujud dihadapan Sang Ilahi, selalu ada perasaan keheningan yang menggetarkan, perasaan khusyu’ yang sungguh menghanyutkan. Saya berpikir perasaan ini muncul karena saat itu kondisi otak kita sedang berada pada gelombang alpha. Dan percayalah, dalam momen itu, kita dengan mudah bisa memasukkan energi positif dan spirit keyakinan dalam segenap pikiran kita. Dalam momen inilah, dalam hamparan kepasrahan total pada Sang Pencipta dan rasa syukur yang terus mengalir, kita bisa merajut butir-butir keyakinan positif itu dalam segenap raga kita. Dalam segenap jiwa dan batin kita.
Maka mulai malam ini………………ditengah kesunyian malam, bentangkanlah sajadah disudut rumah kita, basuhkan air wudhu, dan tegakkan sholat tahajud dengan penuh keikhlasan. Lalu, ditengah keheningan yang menentramkan, lantunkanlah harapan positif dan doa-doa itu dengan penuh keyakinan……Mudah-mudahan kita semua bisa melangkah menuju pintu keberhasilan dan kebahagiaan. Disini dan “Disana”.
Source: http://strategimanajemen.net/best-articles/ | created by: Yodhia Antariksa, Msc

Tuesday, June 21, 2011

Myers Briggs Personality Indicator Highlight

Myers Briggs Personality Traits

Knowing Your Parenting Perosnality

Recognizing What Motivates You
Let's begin with nine simple questions. There are no right or wrong responses to this well-tried methodology for identifying the foundation of your personality, your dominant motivational mode. Once you understand what motivates you, you'll be prepared to discover whether you tend to be a Helper, Organizer, Dreamer, Observer, Questioner, Entertainer, Protector, Peacekeeper, or Moralizer. Following each question are three statements. Choose the one that fits you most closely.

1. When you reflect on your own approach to parenting, which of the following statements best describes your style?
a. My parenting style has to do with interaction and energy, with connecting to my children. I ask myself, am I getting through on an emotional level? I try to feel where they are coming from. Do they understand where I'm coming from? How do they see me? It's important that we connect in a meaningful way.
b. My parenting style is intuitive; I have a gut sense about what's right and wrong, fair and unfair. I'm ambivalent about conflict, but when I have something to say, I have a great need to say it and to be heeded. I don't like being encumbered by extraneous demands or the social expectations of others.
c. My parenting style is intellectual, no question. I'm interested in how children think, process information, and work with ideas. I live in my head-conceptualizing, fantasizing, thinking things, researching and proving--that's what's important to me. "Rationality" is a big word with me.


2. How do you assess the way you communicate with your family?
a. What you see is what you get. I don't use guile, or fancy gimmicks. I talk about things the way I understand them; I give it my best shot. My family gets my honest sense of how it is.
b. I like to present things in the best light possible, not being dishonest, but finding ways to connect, to make sure I get a response--the medium is the message, that kind of thing. So I try to put on a show in a way, highlight my ideas; find the nuances of expression that will help me get through to them. I use emotion and some dramatics, anything that will help them better understand what I'm saying.
c. I try to keep things as conceptual, uncluttered and intellectually pure as I can. I love to ask questions, to practice skepticism, to be a discerning thinker. I try to probe below the surface. I want my children to learn to think this way. If we can stick with what's rational and logical, we're on solid ground.

3. You try to teach your children how to solve problems and make decisions, to encourage their positive personal growth. What is most important to you about facilitating your children's growth?
a. I facilitate their growth through mental activity, finding answers, the excitement that comes from seeing their minds open to the possibilities, to big-picture connections, to new conclusions. Their mental energy stimulates my own thinking. I like that.
b. I facilitate their growth through valuing them as people. I teach them the possibilities of all sorts of human contact and connection: the emotional highs and lows, the feeling of togetherness when we all click and experience some profound interconnection in the moment. My family is a small world complete unto itself; we play out our lives together--unity built on empathy and human understanding, little else.
c. I facilitate their growth by trying to steer them in a direction where they can make a difference and lead fulfilled lives. People need a sense of themselves, of where they stand. The world is difficult to understand--you can lose your way all too easily. Teaching them for me is giving them some skills, some tools, some road maps to take on their journey.

4. Although you get along with your children most of the time, every so often you clash. What would they say about you in those moments?
a. I come on too emotionally when I'm talking to them, they feel like I'm trying to manipulate them into interacting with me. Why can't I just say things out straight? I try to shine it on. It's almost like I need their approval.
b. I'm too abstract, too theoretical, too detached. They need more emotional, personal interaction from me. We're talking, I'm listening, but they have this sense that I'm not really there, that I've moved to somewhere in my head. The harder they try to know where they are with me, the more I distance myself. They question whether anything gets through to me emotionally.
c. I can come across as an immovable force, solid, implacable, although I'm not usually aware of this. I know I can dig in and nothing people say or do will shift me. I've been accused of being overly defensive, stubborn, and critical. I'm not usually aware of my impact on people.

5. Your child is in serious trouble in school because of a grave misdemeanor. How do you try to help in this difficult moment?
a. I try to help by being rational, and not getting caught up in emotions. I can explain the inevitability of the disciplinary decision based on school rules. I can support her best by being logical. Then we can have rational discussion, and I can help her see all the reasons for this outcome. She knows how strongly I love her; this has nothing to do with that-school rules are school rules.
b. I try to help by being straightforward and down-to-earth, having a face-to-face talk. We know where we stand, together, how solidly I love her. This in no way affects that relationship-that doesn't even come into the picture; it's the way things are. She made a mistake. We all do. Face-to-face, saying it straight without any extraneous talk, that's always the best way to handle these interactions.
c. I try to help by letting her know how much I care. I don't like handling these situations. When my children are in trouble, it strikes at my heart. I'm more anxious about this than I want to admit--emotional upsets really get to me. I know her so well, I know what she's feeling as if it were myself. Although she's in the wrong--and we all know that--I'll try to get through to them how much I care.

6. At the last minute your child tells you that he wants to spend his birthday with friends, knowing full well the plans you've made together for the day. What is your first reaction?
a. Disbelief--I can't accept this at all. I know he has to grow and become independent, but why now, why on his birthday? We've planned this day for months. He knows how much I love birthdays. I'm so disappointed; it's a heart-wrenching feeling. It'll take time for me to get over this one.
b. I guess I should have seen this coming. He made noises about this last year. He's growing up--all the signs are there--I just didn't think it would come down on this day. If you think about it rationally and logically, it's a perfectly legitimate request--shows healthy growth. I allowed myself to be blindsided by my own expectations. I'll learn other good lessons from this. Of course he wants to be with his friends, have his own experiences and memories. I won't take this personally.
c. I'm upset and angry about this. It's about honoring commitments. It's that simple, you don't let people down at the last moment. He should have given me an inkling, a clue, not go along with making plans without a word. You get slammed in this world, one way or the other, even by your own children. The anger is overwhelming; I feel it in my whole body. I'll count to ten, but she must know how unfair this is.

7. You want to be a great parent--your dreams reflect the deepest parts of yourself. Your passion for your vision stems from:
a. A feeling that I've got something valuable my children can relate to. I believe I've got what it takes to put across my vision in a way that's honest, good, and effective. It's all about people, I'm in tune, and I understand people. I want my children to have this, too. In my heart I know this is true.
b. A hunch, an instinct that I'm in the right place at the right time doing what I'm supposed to be doing, what I'm meant to be doing. When my head, heart, and gut are aligned behind something, I can trust that sense. I can put my full force behind it. I would never commit to being a parent if I didn't feel 100 percent about it. I'm a 110 percent parent.
c. The knowledge that I have thought through first-rate ideas about parenting that will be of benefit to my children. I wouldn't be involved in anything if I wasn't convinced of the validity of my ideas, hadn't thought things through, and this includes being a parent. If I weren't absolutely sure of my thinking I wouldn't be putting myself on the line.

8. You want to run for an open slot on the PTA. You feel confident you can handle the job and make a contribution to the life of your child's school, because:
a. Of my proven record as an ideas person. No one can question that what I do is conceptually sound. My references attest to my theoretical ability and know-how. I'm as intellectually solid as anyone on the PTA.
b. Of my track record of getting through to people. Whether it's coaching Little League, attending a meeting of the choral society committee, or volunteering at the community center, I've always been able to put across what I believe so that people want to be part of it. I know people; people are my life. I can get the world on board.
c. Of the fact I just know this is right for me now, I can fit myself into the PTA. I have reliable instincts. I've proven it to myself and others time and time again. Lots of people have made good from my instincts. Only something that I believe in 100 percent would get me into running for this election. People know where they stand with me, and that makes them feel safe.

9. Your child writes a paper for class on why you are the best parent in the world. It's published in the school magazine. What is your response?
a. This is wonderful--it validates my parenting style. It's great that my child appreciates the way I think through what I do and my intellectual energy. She's picked up on the highly mental approach I bring to all my activities, it's something she can measure and write about. So, I'm pleased.
b. It's gratifying, but this is not about me. I'm not what I do. It's about her, how perceptive and a good writer she is. This paper's being published won't change things one way or the other: it won't make me a better person, or bring more meaning to my life, or change my relationship with her. I'll just go on being the parent I've always been.
c. I know I'm a good parent, so I deserve this validation, but there are lots of good parents. What's important is that my child wrote about me. That means the world to me. That she knows me so well, values me, is connected to me, and wants to acknowledge me this way. That really pleases me.

How Do I Think? How Do I FEEL?
Now that you've completed the exercise, locate your choices on the chart below. Your dominant mode is reflected by the area with the most choices. You may find you have some choices that do not indicate this mode. There are sound reasons for this that has to do with the shifts you make from your dominant mode when you are under stress or in a particularly secure situation. Nonetheless your dominant mode is the one that shows the most circled choices.

Feeling Mode (Attacher):
1a, 2b, 3b, 4a, 5c, 6a, 7a, 8b, 9c
Mental Mode (Detacher):
1c, 2c, 3a, 4b, 5a, 6b, 7c, 8a, 9a
Instinctual Mode (Defender):
1b, 2a, 3c, 4c, 5b, 6c, 7b, 8c, 9b

Research on personality shows that we make our way in the world primarily as Attachers, Detachers, or Defenders. My nomenclature--Attacher, Detacher Defender--is based on the respected work of the pioneering psychologist Karen Horney who, in her book, Our Inner Conflicts, describes three broad personality patterns as those of moving toward people, moving away from people, and moving against people. I developed the terminology Attachers (who move towards people), Detachers (who move away from people), and Defenders (who move against people). People are a complex fusion of these three ways of being, but one is always dominant. 
From: Enneagram Edge

The "Red Team" Forging A Well-Conceive Contingency Plan

Independent peer review by recognized experts is crucial to the production of any quality product, whether a professional journal or war plan. Colonel Malone and Major Schaupp discuss evolving efforts to use “Red Teams” to incorporate this kind of review into the crisis-action planning process. Employing such teams at critical phases during both the planning itself and the mission rehearsal of completed plans will yield more robust and vetted war plans.

Throughout the lengthy planning effort for Operation Allied Force in 1998–99, allied leaders and planners widely adhered to a significant assumption. When the order arrived to execute the operation- on the very eve of hostilities- that assumption continued to prevail.

What if an enemy, “Red,” announced his intended reaction to a “Blue” campaign plan before Blue executed it? What if Red obligingly pointed out the flaws in Blue’s plan that he intended to exploit and revealed several hidden weaknesses of his own? Surely, once Blue optimized his strengths and protected his vulnerabilities, the operation would stand a much greater chance of success.

Furthermore, what if representatives of the press and the public confided to Blue planners the elements of the operation that concerned them most as well as those with which they might take issue? What if national leadership explained in advance some of the “wrenches” they might throw into the works during execution? What if senior war-fighting commanders and higher headquarters staffs worked alongside the planners to ensure correct understanding of every facet of their guidance and answered the planners’ key questions? If all these pieces of information were synthesized into the plan during the planning process, the plan would have a better chance of surviving any contingency.


For example, Gen Gregory S. Martin, commander of United States Air Forces in Europe (COMUSAFE), tasked his command’s first Red Team to assess an offensive air and space campaign. After analyzing requirements and considering the restrictions imposed by the “need to know,” the Red Team leader formed the team with SMEs from the following areas:

• air operations and strategy
• command and control (C2)
• joint operations
• logistics
• space operations and strategy
• intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR)
• combat search and rescue
• information operations and information warfare
• law
• politics

Weaknesses:
When possible, the commander should draw Red Team members from sources external to the Blue planning organization. Although this may seem intuitive, it is not always easy to accomplish. Most organizations that have the necessary experts are usually fully employed- indeed, the Blue planning orga-nization itself is a perfect example. A commander may be tempted to dual-hat his or her own Blue planners as Red Team members; after all, what better people to assess a plan than the ones most intimately familiar with it? But this seemingly workable solution is fatally flawed: one of the prime benefits of Red Teaming is an independent review of Blue products and reasoning- a second set of eyes on the plan. Try as it might, even the most talented planning group cannot discern its own oversights- if it could, those oversights would not occur in the first place. As concerned as Blue planners must inevitably be with the details, it is sometimes difficult for them to stand back and see the big picture.

Strengths:
When one considers the overall mission of the Red Team- generating a more effective plan- it becomes clear that the team is not consistently “red.” At times, rather than challenging Blue reasoning, its members will provide assistance to the planners, offering another perspective or additional information. This is especially true of the senior mentor, a vital participant in the process although not technically a member of the Red Team. This periodic functional shift on the part of the Red Team- from devil’s advocate to planning partner- does not detract from the overall effort. On the contrary, it broadens the range of thinking and contributions of the entire group, enhancing the planning effort.


Red Team Rules of Engagement
As the Red Team prepares to integrate into the planning effort, it must acknowledge a simple fact: very few people perceive a review and assessment of their efforts as benign. Even assistance, which is ultimately what the Red Team provides, is often not welcome, especially when it comes from people unknown and external to the Blue planning team. To mitigate this friction, the Red Team should meet with the Blue planners as early as possible to explain a number of critical points about a Red Teaming effort. The following ROEs should apply to every Red Teaming event throughout the process:

• The commander’s perceived intent should not limit innovation (e.g., drive certain COAs).
• Red Teaming events are meant to be interactive, candid discussions reminiscent of the flight debrief after a mission.
• The principle of nonattribution is in effect.
• Participants should remain objective in their contributions to the effort; personal agendas or personality conflicts are not welcome.
• Participants should stay professional- no fighting in public.


The first item in this list addresses a problem that can be insidious and deadly to a well-developed plan: the natural tendency to favor a war-fighting commander’s perceived intent in developing COAs. Too often, a planning staff presents the commander with several COAs, knowing full well that all but the perceived favorite are throwaways. As a result, staffers sometimes spend little time seriously developing the COAs.

As the Red Team moves into action, its ability to gain the confidence and trust of the Blue planners is absolutely critical. Failure in this area will lead to Red Team failure. One cannot overstate the importance of avoiding an “us against them” relationship between Blue and Red. Again, the commander’s early buy-in and influence in this area, as well as adherence to the ROEs outlined above, will pay large dividends to the process. When this groundwork is laid successfully, the Blue team will understand why the OPFOR, for instance, is doing its utmost to simulate a realistic, hostile enemy.

Conclusions
USAFE’s early Red Teaming efforts will continue to evolve. Development of the commander’s Red Team becomes more focused with each effort. One thing is already clear- Red Teaming adds great value to contingency planning. It would likely do the same for deliberate planning. Air and space staffs should consider the doctrine already in place, as well as the ideas expounded here, with a view toward making Red Teaming a staple of the planning process.

Field Marshal Helmuth von Moltke’s adage “no plan survives contact with the enemy” is true. But through Red Teaming, a plan can be refined after each contact with a Red Team. This process is valuable because it brings a contingency plan, together with the reasoning and information behind it, under the scrutiny of a well-simulated enemy. Better still, the Red Team can imitate outside agencies, higher headquarters, and even “Murphy’s Law.” A plan that survives this kind of treatment should be healthy indeed. To modify Gen George S. Patton’s famous quotation, “A good plan, well rehearsed, is better than a perfect plan unrehearsed.” 
Source: http://advat.blogspot.com/search/label/Blue%20Team

Framework dalam Cost/Benefit Analysis


Dalam investasi pastilah kita semua sudah menyadari bahwa manfaat (benefit) yang kita terima harus lebih besar dibandingkan semua pengeluaran (cost) yang dikeluarkan, namun tidak semua tahu atau mengerti bagaimana analisis untuk hal tersebut dilakukan. Berikut langkah-langkah dalam melakukan analisis cost-benefit:
  1. Pahami status quo dari cost/ biaya: Ketahui apakah benefit yang akan diterima lebih besar dibandingkan opportunity cost -nya (biaya atas kesempatan yang hilang karena dana kita terikat dalam investasi tersebut)  . Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah benefit dari investasi ini layak atau tidak, jangan sampai terjadi kita investasi namun benefit yang kita dari investasi tersebut lebih kecil dibandingkan jika kita menabung/ deposito uang kita di bank (suku bunga bank Indonesia seringjkali dijadikan acuan sebagai tolok ukur persentase minimal return / benefit dari investasi kita).
  2. Identifikasi berbagai biaya: Selain kita ketahui berbagai biaya yang diinformasikan secara terbuka dari pihak yang menawarkan investasi, kita juga harus mengidentifikasi berbagai kemungkinan kenaikan biaya di masa yang akan datang seiring dengan kenaikan tingkat inflasi (seringkali ini yang jadi alasan untuk menaikkan biaya) dan juga berbagai kemungkinan biaya baru yang sewaktu-waktu muncul akibat :
    1. Terkadang tidak semua jenis biaya yang terjadi di masa yang akan datang diinformasikan oleh pihak yang menawarkan investasi
    2. Terjadinya berbagai peristiwa yang tidak bisa diprediksi seperti: bencana alam, perang, krisis ekonomi, dsb
  3. Identifikasi berbagai benefit dari investasi : ketahuilah berbagai benefit yang akan /bisa muncul dari  investasi di masa yang akan datang.
  4. Ketahuilah berapa besar penghematan biaya yang terjadi jika kita memutuskan berinvestasi dalam satu jenis investasi.  What can u stop doing if you make this investment?
  5. Buatlah timeline schedule/cash flow projection dari berbagai biaya dan pendapatan yang akan terjadi: petakan berbagai biaya dan pendapatan yang akan terjadi dan berapa jumlahnya untuk masing-masing periode investasi (bulanan, tahunan)
  6. Evaluasi berbagai biaya dan benefit yang tidak dapat dihitung/dikuantifikasi: identifikasilah berbagai benefit yang tak berwujud seperti kenaikan citra credit rating kita di mata perbankan, memperkuat posisi tawar kita terhadap pihak lain seperti distributor, kompetitor atau lainnya demikian juga dengan biaya-biaya yg tidak dapat dikuantifikasi yang muncul.

Monday, June 20, 2011

A Leeson From A Child Story: A Great Passion Bring A Great Life


Murni dan segar adalah bunga-bunga yang berembun;
Jernih dan nyaring adalah kicauan burung-burung.
Awan berarak tenang, air laut kebiru-biriuan.
Siapakah penulis Kitab Sejati Tanpa Aksara?
Menjulang tinggi adalah pegunungan;
Hijau adalah pepohonan, dalam adalah lembah-lembah.
Angin berembus lembut, rembulan pun cerah.
Diam-diam kubaca Kitab Sejati Tanpa Aksara
[Zenkei Shibayama]-Kitab Sejati Tanpa Aksara


Kemarin malam, dalam perjalanan pulang dari sebuah supermarket, istri saya menceritakan sebuah kisah nyata yang dia baca dari link yang dikirimkan teman kami dari sebuah grup diskusi. Kisah itu bercerita tentang kejadian nyata yang dialami oleh seorang anak SD yang tinggal bersama neneknya di sebuah rumah yang beralaskan tanah dan tikar, berdinding hanya selutut orang dewasa di bawah sebuah jembatan ( bisa dibilang dalam perspektif  standard hidup perkotaan saat ini itu bukan sebuah rumah). Yang menjadi inti kisah tersebut adalah bagaimana kebesaran hati yang maha luas seperti sebuah samudera raya yang entah bagaimana caranya bisa ada dalam sebuah bejana tanah liat yang dihembus dengan sebuah hembusan menjadi sesosok yang namanya anak kecil dalam menghadapi berbagai kegetiran hidup di jaman ini. Kisah itu selengkapnya dapat dibaca di http://muda.kompasiana.com/2011/06/18/senyuman-alex/


Entah mengapa! Ketika istri saya menuturkan ulang kisah ini membuat saya yang saat itu sedang menyetir  seolah-olah melihat sebuah film layar lebar, dengan kaca depan mobil kami sebagai layar sorotnya, dimana tergambar jelas alur kisah tersebut dalam benak saya (yang untungnya tidak sampai menimbulkan masalah pandangan di tengah mengendarai mobil… ).  Kisah tersebut membuat saya dan anak kami terdiam khusyuk mendengarnya, entah mengapa juga anak kami yang biasanya aktif menjadi seolah terhipnotis dengan kisah tersebut, dalam relung hati saya ada keharuan yang menjelma menjadi sebuah keprihatinan dan simpati yang teramat mendalam  akan kisah anak tersebut.

Di ujung kisah tadi, saya teringat akan sebuah syair (di atas) yang menurut saya sangat luar biasa yang ditulis oleh Zenkei Shibayama, perlu diketahui ini satu-satunya syair Jepang yang saya ketahui dan member kesan mendalam akan maknanya.

Syair di atas menggambarkan keindahan alam sebagai sebuah maha karya yang dianalogikan dengan sebuah Kitab Tanpa Aksara, namun setelah mendengar kisah anak tadi, di benak saya muncul ide bahwa Kitab tersebut sejatinya juga mencakup kisah-kisah nyata yang dialami seluruh mahluk hidup, dengan salah satu ayatnya yang mengisi kitab tersebut adalah kisah anak tadi.

Namun, setelah saya renungkan lagi, ada ide lain muncul yang menyatakan bahwa kisah anak tersebut termasuk dan dicatat dalam Kitab Kehidupan. Dalam ajaran nasrani, kisah setiap orang akan dimasukkan ke dalam sebuah kitab yang bernama Kitab Kehidupan, yang akan dijadikan acuan untuk mempertimbangkan keadilan dalam pengadilan akhir untuk menentukan status kekekalannya apakah masuk surga atau neraka. 

“Wah, ada dua kitab dong kalau begitu?”  Saya bertanya-tanya sendiri dibuatnya.
Tidak seperti itu jika ditilik lebih lanjut keduanya merupakan Kitab Tanpa Aksara dan keduanya juga Sejati yakni sebagai Maha KaryaNya. Zenkei memaknai keindahan alam sebagai Maha KaryaNya dalam melukis alam di dunia ini untuk bisa dinikmati oleh kita semua dan saya setuju jika secara tanpa sadar menikmati keindahan alam berarti kita sedang membaca karyaNya yang Agung yang berupa tulisan Tanpa Aksara di alam ini. Namun saya menyadari karyaNya yang paling Agung adalah manusia dan kisahnya.

“ Manusia?” Barangkali banyak yang seia sekata dengan saya, tapi kisah seseorang apakah bisa disebut karyaNya yang paling Agung???

“Yap, salah satu contohnya adalah kisah anak tadi, bukan!” 

Saya sangat meyakini karena itulah anak tadi bisa dengan tabahnya menghadapi berbagai kegetiran hidup ini , karena itulah seorang anak kecil tadi bisa memiliki kebesaran hati sebesar samudera luas yang dimasukkan ke dalam sebuah bejana tanah liat yang diberi hembusan. Di tengah berbagai aspek ketidakadilan yang secara kasat mata terlihat menimpa anak ini diam-diam meruak keadlian sejati dari dalam dirinya…

Sunday, June 19, 2011

Sejarah Permainan Monopoli

Tentunya anda pernah memainkan permainan MONOPOLY tersebut sewaktu kecil bahkan sekarang pun masi memainkannya. Permainan tersebut amat di kenal dan digemari bahkan para ahli financial amat menyarankan anda untuk memainkan permainan tersebut. Bahkan R.Kiyosaki (Cashflow) dan Donald Trump (Trump the game) ikut2an mematenkan permainan seperti itu hanya saja dengan kelas yang lebih berbeda..

Yah, permainan monopoly adalah permainan yang sudah mendunia, tidak saja anak2 kecil yang pantas memainkannya, para remaja dan anak dewasa juga larut dalam permainan tersebut.. Perputaran uang di dunia nyata di terapkan didalam permainan ini. Para pemain berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan melalui penyewaan dan pertukaran properti dalam sistem ekonomi yang disederhanakan..


Setiap pemain melemparkan dadu secara bergiliran untuk memindahkan bidaknya, dan apabila ia mendarat di petak yang belum dimiliki oleh pemain lain, ia dapat membeli petak itu sesuai harga yang tertera. Bila petak itu sudah dibeli pemain lain, ia harus membayar pemain itu uang sewa yang jumlahnya juga sudah ditetapkan. Dan jika pemain sudah mencapai kembali di petak dimana permainan di mulai, maka pemain menerima Uang dari Bank dengan jumlah yang di sepakati..

Asyik bukan? seperti itu juga kehidupan kita, bekerja keras setiap hari untuk menerima gaji pada waktunya.. kemudian uang tersebut di gunakan untuk membeli asset yang nantiny akan menghasilkan arus kas untuk kita.. Semakin banyak asset yang anda beli maka semakin kaya pula anda... (Alasan ini lah yang membuat para pakar financial menganjurkan permainan monopoli)
"Anda ingin tahu bagaimana caranya Kaya cobalah bermain monopoly"

Ternyata sejarah permainan monopoli memiliki cerita kontroversialnya mengenai siapa pemilik hak paten yang sesungguhnya.. Mari kita ikutin jalan cerita munculnya permainan Monopoli ini :

-Jauh sebelum Charles Darrow mematenkan permainan monopoli ini, Sudah ada permainan yang seperti monopoli ini. Permainan ini dinamakan The Landlord's Game (Permainan Tuan Tanah) di ciptakan oleh Elizabeth Magie di tahun 1904

- Ide Magie menciptakan permainan ini berharap dapat mempermudah menerangkan prinsip2 Georgism, sistem yang di usulkan oleh Henry George, bagaimana para pemilik tanah memperkaya diri melalui penarikan sewa tanah mereka.

- Walaupun di patenkan thn 1904 , Permainan ini justru mulai di terbitkan oleh The Newbie Game Company di London tahun 1913 dengan nama Brer Fox an' Brer Rabbit.

- Magie kemudian kembali menjual hak patennya tahun 1935 kepada Perusahaan Parker Brother senilai $500.

- Ternyata di belahan lain , Di awal tahun 1930 Charles Darrow dari Germantown, Pennsylvania yang terkena dampak dari masa depresi hebat yang melanda Amerika, terinspirasi untuk merancang apa saja yang akan dia lakukan jika suatu saat nanti ia menjadi jutawan. Semua gagasan itu di wujudkan dalam permainan. Sebuah permainan uang dengan mengunakan versinya sendiri (Terlepas dari apakah Charles Darrow pernah memainkan permainan The LandLord sebelumnya)

- Sampai tahun 1930 Charles tidak sanggup lagi untuk menangani permintaan yang datang. Ia kemudian menjual hak patennya kepada perusahaan yang sama dengan Magie, yaitu Parker Brother dan menarik royalty untuk tiap permainan yang terjual.

- Pada awalnya Parker Brother sempat menolak dengan berbagai alasan. Salah satu alasan nya adalah sudah ada permainan yang serupa dengan permainan tersebut. Akan tetapi karena melihat tingginya penjualan permainan ini pada hari natal 1934, Parker Brother mulai berubah pikiran.

- Tahun 1935 Permainan Monopoli versi Charles membooming, Magie pun ikut mengklaim hak nya atas penjualan permainan tersebut, Maka Parker Brother kembali memproduksi dan memasarkan permainan tersebut dengan tiga nama yang berbeda , Salah satunya dengan nama The LandLord Games yang sempat terjual beberapa ratus salinan sebelum di hentikan.

- Menjelang tahun 1970,sejarah awal dari permainan monopoli mulai terhapus, Masyarakat lebih mengenal permainan Monopoli yang diciptakan oleh Charles Darrow. Sejarah ini juga diceritakan dalam buku The Monopoly Book: Strategy and Tactics of the World's Most Popular Game, oleh Maxine Brady yang dicetak dalam tahun 1974.

- Profesor Ralph Anspach pernah melayangkan tuntutan kepada Parker Brothers mengenai hak tanda perniagaan permainan Monopoly.

-Profesor Anspach juga menerbitkan buku mengenai penyelidikannya dengan judul The Billion Dollar Monopoly Swindle (Penipuan Monopoly Berbilion Dollar) di mana dia menghujahkan sejarah awal permainan Monopoly dan perkembangan permainan tersebut.

-Tuntutan ini berlarutan hingga pertengahan tahun 1980-an dan status perundangan hak milik perniagaan permainan Monopoly tergantung tanpa rumusan. Kini hak tersebut masi dipegang oleh Parker Brother dan mengakui Charles Darrow sebagai pemilik sah permainan monopoly.

- Perlu di ketahui bahwa kini permainan Monopoly adalah merek internasional yang dimiliki Hasbro (Induk dari Parker Brother) dan sudah dijual lebih dari 105 negara dan diterjemahkan dalam 39 bahasa.


- Kini melalui PT NewBoy Indonesia, kita dapat menikmati permainan monopoli edisi Indonesia. Bertempat di Atrium Plaza Senayan, Monopoly Edisi Indonesia resmi dijual per 1 April 2009. Untuk edisi Indonesia, Hasbro memastikan properti-properti dalam permainan ini memakai nama-nama jalan, fasilitas umum, stasion serta bandara yang ada di Indonesia. Monopoly Edisi Indonesia ini dijual dengan harga Rp 299.900,-

- Pingin ikutan main monopoli tapi ga ada lawan main? Mainkan aja di Monopolylive, anda dapat memainkan secara online, Monopolylive juga menyediakan hadiah buat para pemenang setiap harinya.. So buat anda yang merasa jagoan.. Buruan!!!

- Baca juga bagaimana perjalanan hidup Charles Darrow terinspirasi menciptakan permainan monopoly ini "Jangan Biarkan Impian Anda Padam"

Sumber : Wiki,kompas,monopolylive

Framework, Definisi, Sejarah, dan Karakteristik Reksadana

Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana / modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen – instrumen investasi yang tersedia dipasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh manajer investasi (MI)

Ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang, ataupun efek / sekuriti lainnya. Menurut undang – undang pasar modal no. 8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27: reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Dari kedua definisi diatas, terdapat 3 unsur penting dalam pengertiaan reksadana yaitu:

1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi

2. Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi

3. Manajer investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor

Pada reksadana manajemen investasi mengelola dana – dana yang ditempatkannya pada saat surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam “Nilai Aktiva Bersih” (NAB) reksadana tersebut.

Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administrator.


Sejarah Reksadana

Reksadana yang pertama kali bernama Massachusetts Investors Trust yang diterbitkan tanggal 21 Maret 1924, yang hanya dalam waktu setahun telah memiliki sebanyak 200 investor reksadana dengan total aset senilai US$ 392.000. Pada tahun 1929 sewaktu bursa saham jatuh maka pertumbuhan industri reksadana ini menjadi melambat. Menanggapi jatuhnya bursa maka Kongres Amerika mengeluarkan Undang-undang Surat Berharga 1933 (Securities Act of 1933) dan Undang-undang Bursa Saham 1934 (Securities Exchange Act of 1934). Berdasarkan peraturan tersebut maka reksadana wajib didaftarkan pada Securities and Exchange Commission atau biasa disebut SEC yaitu sebuah komisi di Amerika yang menangani perdagangan surat berharga dan pasar modal. Selain itu pula, penerbit reksadana wajib untuk menyediakan prospektus yang memuat informasi guna keterbukaan informasi reksadana, juga termasuk surat berharga yang menjadi objek kelolaan, informasi mengenai manajer investasi yang menerbitkan reksadana. SEC juga terlibat dalam perancangan Undang-undang Perusahaan Investasi tahun 1940 yang menjadi acuan bagi ketentuan-ketentuan yang wajib dipenuhi untuk setiap pendaftaran reksadana hingga hari ini. Dengan pulihnya kepercayaan pasar terhadap bursa saham, reksadana mulai tumbuh dan berkembang. Hingga akhir tahun 1960 diperkirakan telah ada sekitar 270 reksadana dengan dana kelolaan sebesar 48 triliun US Dollar. Reksadana indeks pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976 oleh John Bogle dengan nama First Index Investment Trust, yang sekarang bernama Vanguard 500 Index Fund yang merupakan reksadana dengan dana kelolaan terbesar yang mencapai 100 triliun US Dollar. Salah satu kontributor terbesar dari pertumbuhan reksadana di Amerika yaitu dengan adanya ketentuan mengenai rekening pensiun perorangan (individual retirement account – IRA), yang menambahkan ketentuan kedalam Internal Revenue Code( peraturan perpajakan di Amerika) yang mengizinkan perorangan (termasuk mereka yang sudah memiliki program pensiun perusahaan) untuk menyisihkan sebesar 4.000 US $ setahun.

Jenis – Jenis Reksadana

1. Reksadana Pasar Uang:

Reksa Dana yang menempatkan 100% dananya, dalam instrumen pasar uang, seperti deposito, SBI (Sertifikat Bank Indonesia), atau obligasi (surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau Pemerintah) yang memiliki jatuh tempo kurang dari 1 tahun.

2. Reksadana Dana Tetap:

Reksa Dana yang menempatkan minimum 80% dari dananya dalam instrumen obligasi.

3. Reksa Dana Campuran:

Reksa Dana yang menempatkan dananya, dalam instrumen pasar uang atau obligasi, atau saham dengan komposisi yang fleksibel.

4. Reksa Dana Saham:

Reksa Dana yang menempatkan minimum 80% dari dananya dalam instrumen saham.

Reksa Dana Terproteksi:

Reksa Dana yang menempatkan sebagian besar dananya dalam instrumen obligasi sedemikian rupa dapat memberikan perlindungan atas nilai awal investasi pada saat jatuh temponya.

Manfaat Reksadana

Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:

1. Dikelola oleh manajemen profesional

Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.

2. Diversifikasi investasi

Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.

3. Transparansi informasi

Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.

4. Likuiditas yang tinggi

Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.

5. Biaya Rendah

Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.

Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa.

Karakteristik Reksadana
· Pasar Uang

1. Relatif lebih aman dibandingkan jenis reksa dana lainnya.

2. Bersifat likuid atau mudah dicairkan.

3. Investasi jangka pendek.

4. Mempunyai potensi keuntungan sedikit lebih tinggi dari deposito.

· Pendapatan Tetap

1. Mempunyai potensi keuntungan lebih tinggi dari

reksa dana pasar uang.

2. Investasi jangka menengah.

· Campuran

1. Mempunyai potensi keuntungan yang cukup

tinggi.

2. Investasi jangka menengah sampai panjang.

· Saham

1. Mempunyai potensi keuntungan paling tinggi,

namun mempunyai risiko yang lebih tinggi

dibanding reksa dana lainnya.

2. Investasi jangka panjang.

· Terproteksi

1. Perlindungan 100% pada nilai pokok investasi,

jika dicairkan sesuai dengan jangka waktu yang

ditentukan.

2. Mempunyai potensi keuntungan sebesar tingkat

bunga portfolio obligasi.

Keuntungan Reksa Dana

Biaya relatif rendah.
Cocok untuk pemodal pemula dan investor dengan kemampuan finansial yang tidak terlalu besar, serta tidak terlalu menguasai teknik – teknik portofolio.
Dikelola oleh Manajer Investasi yang profesional.

Risiko Investasi Reksa Dana

Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi timbul apabila membeli Reksadana.

1. Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan

Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.

2. Risiko Likuiditas

Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga mempengaruhi investor reksadana untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan reksadana tersebut. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebut, serta dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola Reksadana tersebut.

3. Risiko Pasar

Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Istilah lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh karena itu, apabila ingin membeli jenis Reksadana tertentu, Investor harus bisa memperhatikan tren pasar dari instrumen portofolio Reksadana itu sendiri.

4. Risiko Default

Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan

  1. Reksa Dana bukan merupakan produk bank, sehingga tidak dijamin oleh bank, serta tidak termasuk dalam cakupan objek program penjaminan pemerintah atau penjaminan simpanan.
  2. Semakin tinggi potensi keuntungan yang dapat Anda raih, semakin besar pula risiko hilangnya nilai investasi Anda.
  3. Pastikan memperoleh Bukti Kepemilikan Unit Penyertaan.
  4. Pastikan memiliki hak untuk menjual kembali sebagian atau seluruh Unit Penyertaannya, kepada Manajer Investasi.
  5. Dapatkan laporan posisi Nilai Aktiva Bersih dari Unit Penyertaan dan laporan tahunan posisi penyertaan serta pembaharuan prospektus.
  6. Ketahui dan pahami rencana investasi portfolio yang akan ditanam dari produk Reksa Dana baik potensi hasil dan risiko dengan membaca prospektus secara cermat.
  7. Pahami tujuan rencana keuangan pribadi dan pemilihan produk sesuai dengan profil risiko.
  8. Tetap menyediakan dana yang cukup dan menabung secara teratur untuk mengantisipasi timbulnya risiko investasi.
  9. Pilih jangka waktu investasi yang sesuai dengan rencana keuangan Anda dan jangan mudah terpengaruh pendapat orang lain, serta berpikir dan bertindak realistis dalam berinvestasi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...